!

Niken's Story

Tempat buat ngeluarin uneg2....curhat ga jelas.. keluh kesah yang ga selesai - selesai.. ngomongin sesuatu yang penting sampe ga penting banget.. n Everything about Me , Myself & Mine ....

Thursday, December 22, 2005

It's just an opinion

Hasil copy paste dari e- mail seorang temen...
Ini hanya sebuah opini loh.. jadi boleh setuju boleh enggak...
Setiap orang kan bebas berpendapat... dan bener - bener nggak bermaksud menyingung agama mana pun....


Ini sebuah opini pada tulisan mengenai "Dalam Perjalanan Menuju Monas"
Pada kebanyakan orang Indonesia memeluk agama adalah suatu bentuk nepotisme...
Memeluk satu agama karena orang tua kita adalahpemeluk agama tersebut, lalu diikuti dengan kerajinan dan ketelatenan kita mengikuti ritual agama, seperti sholat, mengaji, pergi ke gereja, bernovena, melakukan sembahyang sajen.
Maka dengan hal-hal tersebut orang Indonesia (pada sebagian besar masyarakat) sudah mengklaim bahwa dirinya dirinya seorang pemeluk agama yang baik dan taat, tanpa suatu proses pembelajaran diri untuk mengetahui dan memahami agama tersebut.
Maka tak jarang yang terjadi adalah kisah seperti dalam cerita Dalam Perjalanan Menuju Monas. Bahkan yang tetrjadi di kehidupan kita sehari-hari jauh lebih parah!
Perang antar agama, pembunuhan, perusakan rumah-rumah ibadah, ceramah-ceramah yang menyesatkan dan lain-lain. Dimana letak kesalahannya?
Salah satunya adalah hal di atas, bahwa kita memeluk agama hanya suatu bentuk rutinitas biasa seperti makan 3 kali dalam sehari. Tanpa ada suatu keinginan untuk memahami dan memaknainya. Di samping kurangnya sumber daya manusia yang mampu memberikan penjelasan mengenai
agama dengan baik. Mari kita jujur, berapa banyak dari kaum ulama, rohaniwan di Indonesia yang benar-benar qualified dalam mendapatkan pendidikan mengenai agama?
Ada berapa manusia seperti Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, Romo Mangun, Ibu Gedong yang dimiliki Indonesia?
Banyak orang yang dengan pendidikan seadanya menjadi dai, menjadi ustad. Banyak orang yang masuk sekolah teologi, sekolah pendeta karena gagal menempuh ujian UMPTN. Juga banyak para imam yang masuk seminari berasal dari keluarga yang tidak mampu membiayai mereka untuk bersekolah. Maka tak heran kita masyarakat tidak mendapat informasi yang cukup. Karena kaum ulama, rohaniwan kita (hm.. maaf dengan tidak bermaksud merendahkan hanyalah sebuah persembahan sisa-sisa keluarga. Bukan persembahan terbaik dari keluarga kita untuk Tuhan! )

Bagaimana mungkin seorang yang tamat SD akan memberikan penjelasan tentang agama, tentang Tuhan kepada seorang Doktor, yang pertanyaannya amat sangat kritis dan selalu meminta jawaban yang berdasarkan suatu pemahaman logika? Maka tak heran kita hanya memahami agama kita sebatas sholat lima waktu, ke gereja setiap hari Minggu.
Dan tak heran pula kita akan dengan sombongnya mengatakan bahwa hanya agama kita yang benar, yang menjanjikan keselamatan, dan saling berebut untuk menjadikan orang lain menjadi pemeluk agama kita. Dengan begitu kita melakukan sebuah kegiatan seperti yang ditulis oleh Anthony de Mello, " Pasar Malam Agama".
Semua agama menjajakan dirinya sebagai agama keselamatan, hingga Yang Maha Kuasa yang dating mengunjungi stand-stand mereka merasa jengah dan tidak mengenali mereka!
Memeluk agama adalah sebuah pengalaman iman yang misteri! Saya yakin tak seorangpun dapat memberikan jawaban yang akan memuaskan orang lain bila ditanya mengapa ia memeluk satu agama ini dan bukan agama yang lain.
Memeluk satu keyakinan tak lebih tak kurang hanyalah seperti kita memilih ingin makan daging ayam apa. Beberapa orang hanya mau makan daging ayam KFC, yang lain ingin McDonald. Tak jarang juga memilih daging ayam bakar Wong Solo atau Mbok Berek. Objek yang dimakan sama hanyalah DAGING AYAM! Dan tujuannya pun sama INGIN MAKAN DAGING AYAM! Hanya berbeda cara memasak dan cara menghidangkannya. Lalu apakah kita akan memukul atau menganiaya orang yang tak ingin makan daging ayam KFC karena yang pasdi lidahnya hanyalah ayam Mbok Berek? Dalam pemahaman saya, manusia tidak pernah memilih untuk menjadi seorang Muslim, atau menjadi sorang kristiani atau menjadi Hindu atau Budha. Sebenarnya yang terjadi adalah kita dipilih untuk menjadi seorang Muslim,atau Kristiani, atau Hindu atau Budha. We neverchoose, but we are choosen! Dipilih menganut suatu kepercayaan setelah kitamengalami pengalaman iman atau mendapat hidayah! Mengapa saya mengatakan begitu? Mari kembali pada sejarah. Perang Salib antara kaum Kristiani dan Muslim tidak menyurutkan sejumlah orang menjadi Muslim atau Kristiani. Padahal sudah jelas kedua agama saling melakukan pembunuhan.
Adakah Tuhan mengajarkan tindakan pembunuhan?Atau lihatlah dalam sejarah Katholik, Paus menetapkan hukuman mati bagi Copernicus dan tahanan rumah bagi Galileo Galilei karena keduanya mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya, bumi mengitari matahari dan bentuk bumi adalah bulat bukan datar. Hal yang bertentangan dengan ajaran Katholik pada saat itu, walaupun itulah yang sebenarnya (mungkin Paussaat itu tidak pandai ilmu Fisika dan malas mempelajarinya). Tapi toh banyak orang yang sampai detik ini mengikuti katekisasi untuk menjadi Katholik.
Maka memeluk kepercayaan berawal dari sebuah misteri iman dan seharusnya diikuti dengan pembelajaran diri untuk memahami dan memaknainya. Pemahaman agama dan akan hubungan dengan Tuhan tidaklah diukur semata-mata dengan frekuensi kita berdoa atau sembahyang, tidak dari berapa banyak sakramen yang sudah kita peroleh.
Dengan pemahaman yang baik, kita dapat menghargai kepercayaan lain. Dan bila ditilik lebih lanjut, belajar menghargai dan mengetahui agama lain, adalah suatu cara kita untuk lebih mengenal Yang Maha Kuasa. Lihatlah kisah seorang jendral terkenal di Indonesia dalam biografinya. Jend(Purn). Omar Dhani. Seorang muslim yang taat, dituduh dan dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun lamanya sebagai seorang Komunis. Dalam penjara di bulan Desember 1969, di antara keputusasaannya karena mendapat perlakuan tidak adil ia dikuatkan oleh suara lonceng gereja di malam Natal dan melafalkan sebuah doa yang dia pelajari saat bersekolah di Muntilan, Doa Bapa Kami. Apakah dia menjadi seorang Kristiani? Tidak! Dia tetap seorang Muslim yang taat sholat 5 waktu!
Atau dengarlah pengakuan wartawan senior Mohammad Sobary yang mengaku dirinya "di-Katholik-kan" oleh Rm.Mangun. Apakah dia menjadi seorang Katholik? Ah, tidak juga. Dia tetap menjadi seorang Muslim.
Mengenal dan memahami agama yang kita peluk dengan baik, akan membuat kita tidak lagi sombong mengagungkan agama kita semata. Tidak meletakkan bom bunuh diri sebagai satu bentuk jihad tertinggi daripada jihad mengajari anak-anak jalanan baca-tulis.Tidak juga memahami secara harafiah kutipan Kitab Suci " Pergilah dan jadikanlah semua bangsa menjadi murid-Ku" ( dalam sebuah diskusi, alm. Pdt Eka Darmaputra mengatakan " Tak ada istimewanya ayat tersebut. Sama saja kedudukannya dengan ayat yang lain. Tuhan tidak membuatnya begitu special, tidak menuliskannya dengan tinta emas.") Tidak juga dalam pemahaman ada berapa banyak sajen yang sudah kita letakkan di sekeliling rumah untuk Sang Hyang Widhi.
Agama hanyalah satu wadah yang membantu kita untuk menemukan Tuhan, dan menjadikan hidup kita "lebihteratur" (agama, berasal dari bahasa Sanskerta, a berarti tidak, gama artinya kacau. Agama = tidak kacau). Dengan memeluk satu kepercayaan, kita menemukan satu cara berkomunikasi dengan Tuhan yang paling afdol, yang paling mesra layaknya sepasang kekasih yang dimabuk cinta dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari dengan sesama.

Selamat bertemu Tuhan melalui kepercayaan yang kita anut!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home